Ilustrasi vibe coding untuk programmer

Pemrograman & Development

Eko Kurniawan Ajarkan “Vibe Coding” – Cara Baru Programmer Menggarap Proyek dengan AI

Kamis 16 Apr 2026, 10:21 WIB

Channel YouTube Programmer Zaman Now merilis video pembelajaran terbaru berjudul “Belajar Vibe Coding untuk Programmer” yang membahas cara kerja baru programmer di era kecerdasan buatan. Dalam sesi berdurasi sekitar dua jam setengah ini, Eko Kurniawan menjelaskan bagaimana programmer bisa memanfaatkan AI untuk mengotomasi hampir seluruh siklus pengembangan backend, dari perencanaan, penulisan kode, pengujian, hingga dokumentasi.

Di awal materi, Eko menegaskan bahwa kelas ini secara khusus ditujukan untuk programmer—baik junior maupun senior—karena pembahasannya sangat teknis. Bahasa yang digunakan di praktik adalah JavaScript/TypeScript dengan editor berbasis Visual Studio Code dan Google Antigravity sebagai IDE AI-first.

Dari “tukang kode” jadi “arsitek” dan “mandor”

Konsep utama yang diangkat adalah “vibe coding”. Eko mendefinisikan vibe coding sebagai cara membuat aplikasi dengan mendeskripsikan apa yang ingin dibangun, bukan lagi menulis kode langkah demi langkah seperti cara tradisional. Programmer tidak lagi berperan sebagai “tukang” yang mengimplementasikan tiap baris kode, tetapi sebagai navigator atau arsitek yang mengarahkan AI:

Eko juga membedakan istilah “vibe coding” dan “vibe engineering”. Menurutnya, untuk orang non-teknis yang hanya melihat hasil tanpa memahami isi kodenya, istilah vibe coding masih relevan. Namun, untuk programmer yang mengerti kode dan arsitektur, istilah yang lebih tepat sebenarnya adalah “vibe engineering” karena mereka menggunakan AI sebagai asisten untuk membangun sistem yang handal, aman, dan teruji.

Memilih LLM dan tools: dari Gemini, Claude, hingga GitHub CLI

Dalam sesi “LLM Model” dan “Tools untuk Vibe Coding”, Eko memetakan ekosistem model AI dan tools yang bisa digunakan untuk workflow ini. Ia menyinggung berbagai Large Language Model populer seperti:

Eko menekankan bahwa kualitas model relatif ketat dan developer bebas memilih model yang paling nyaman dipakai, karena skor benchmark biasanya tidak berbeda jauh.

Untuk tools, ia membagi dua kategori:

  1. Berbasis terminal – misalnya Claude Code, GitHub Copilot CLI, ChatGPT/Codex, Gemini CLI.
  2. Berbasis GUI/IDE – misalnya Cursor, Windsurf, Google Antigravity, dan JetBrains dengan integrasi AI.

Dalam demo, Eko menggunakan kombinasi:

Workflow: planning dulu, baru generate kode

Salah satu pesan terkuat dari video ini adalah pentingnya planning sebelum AI mulai menulis kode. Eko menunjukkan pola kerja berulang:

  1. Menulis prompt perencanaan cukup detail (misalnya di file issue.md).
  2. Meminta model “mahal” untuk menghasilkan dokumen planning berlevel high-level.
  3. Mengubah planning itu menjadi GitHub Issue.
  4. Meminta model yang lebih murah untuk mengimplementasikan Issue tersebut: scaffolding project, menulis kode, menjalankan perintah CLI, hingga membuat pull request.

Di demo, Eko mempraktikkan:

Polanya kemudian diulang untuk fitur-fitur konkret:

Setiap fitur selalu diawali dengan Issue yang berisi definisi tabel, endpoint, body request/respons, serta struktur folder dan file.

Debugging, unit test, dan code review juga diserahkan ke AI

Video ini tidak berhenti di level “AI menulis kode”. Eko menunjukkan bahwa AI juga dapat:

Untuk pengujian, Eko meminta AI mengenerate unit test lengkap menggunakan Bun test untuk seluruh API yang sudah dibuat. Hasilnya adalah file test ratusan baris berisi berbagai skenario: sukses, data kosong, format tidak valid, konflik email, token tidak valid, hingga unauthorized.

Ia juga mendemonstrasikan code review oleh AI model lain: pull request yang sudah dibuat dinilai kembali oleh model yang lebih kuat, yang kemudian memberikan komentar perbaikan (misalnya menghindari duplikasi logika ekstraksi token) dan menyarankan refactor.

Dokumentasi, Swagger, dan materi belajar dari kode sendiri

Bagian akhir video menyorot bagaimana dokumentasi pun bisa “dipindahkan” ke AI:

AI juga dimanfaatkan sebagai partner belajar. Eko memperlihatkan bagaimana developer bisa:

Peringatan: jangan buta percaya AI, dan jangan bawa AI ke production tanpa batas

Di bagian “Yang Perlu Diperhatikan”, Eko mengingatkan beberapa risiko utama:

Ia juga menekankan pentingnya meminta referensi dan alasan dari setiap “best practice” yang diklaim AI, terutama terkait arsitektur dan keamanan.

Programmer yang pakai AI vs yang tidak

Sebagai penutup, Eko menyampaikan pandangan bahwa programmer tidak otomatis tergantikan AI, asalkan mau bergeser peran:

Ia mendorong programmer untuk mulai mencoba satu proyek end-to-end dengan pola vibe coding: dari scaffolding, implementasi fitur, debugging, pengujian, hingga dokumentasi, semuanya diarahkan lewat AI, sambil tetap menjaga standar engineering dan keamanan.

Tags:
Vibe CodingProgrammer

Beta Stack burn

Reporter

Beta Stack burn

Editor